Untuk pertama kalinya, astronom menangkap gelombang radio dari supernova langka Tipe Ibn. Sinyal lemah yang menyingkap “rekaman ulang” satu dasawarsa terakhir kehidupan bintang raksasa.

Supernova sering digambarkan sebagai akhir dramatis dari hidup bintang raksasa, kilatan terakhir yang menyilaukan galaksi. Namun biasanya, astronom hanya melihat momen puncaknya saja, ketika bintang sudah meledak dan cahayanya membanjiri teleskop. Sisa hidup bintang sebelum itu tetap menjadi misteri.
Kini, sebuah tim internasional berhasil melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kelas supernova tertentu. Mereka menangkap gelombang radio pertama dari supernova langka yang dikenal sebagai Tipe Ibn. Sinyal radio yang sangat lemah tetapi konsisten ini memberi kesempatan unik untuk “melihat ke belakang” dan merekonstruksi tahun tahun terakhir sebelum bintang tersebut mati.
Supernova Tipe Ibn adalah kategori yang jarang. Ledakan ini terjadi ketika bintang yang sangat masif meledak dan menghantam selubung gas kaya helium yang baru saja dibuangnya ke ruang angkasa. Alih alih menyisakan lingkungan yang relatif bersih, bintang tersebut tampak dikelilingi kabut helium yang tebal, hasil dari proses kehilangan massa ekstrem hanya beberapa tahun sebelum ledakan.
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di The Astrophysical Journal Letters, para peneliti menggunakan Very Large Array (VLA), jaringan teleskop radio milik National Science Foundation di New Mexico, Amerika Serikat. Mereka menargetkan supernova Tipe Ibn dan melacak pancaran radionya selama sekitar 18 bulan. Di balik sinyal yang tampak sederhana ini, tersembunyi informasi rinci tentang gas yang pernah dikeluarkan bintang di masa lalu.
Ketika bintang meledak, gelombang kejut supernova merambat keluar dengan kecepatan sangat tinggi, menabrak gas yang sudah terlebih dahulu terbuang dan mengisi ruang sekeliling. Tumbukan antara gelombang kejut dan gas ini menghasilkan partikel berenergi tinggi dan medan magnet yang kuat, yang pada gilirannya memancarkan gelombang radio. Dengan mengukur seberapa terang dan bagaimana perubahan sinyal radio dari waktu ke waktu, astronom dapat memperkirakan seberapa padat dan seberapa dekat gas tersebut dari bintang sebelum meledak.
Analisis menunjukkan bahwa bintang yang menjadi asal supernova ini mengalami kehilangan massa yang sangat hebat dalam rentang waktu yang relatif singkat, hanya beberapa tahun hingga sekitar satu dasawarsa sebelum ledakan. Jika diterjemahkan, bintang itu seakan memasuki fase “krisis akhir hidup”, membuang sejumlah besar materi ke ruang antarbintang sebelum akhirnya runtuh dan meledak.
Menariknya, pola gas yang didapat dari data radio tidak konsisten dengan bintang tunggal yang pelan perlahan menghembuskan anginnya. Pola tersebut lebih cocok dengan sistem bintang ganda, di mana dua bintang mengorbit satu sama lain. Interaksi gravitasi dan aliran materi antara kedua bintang itu kemungkinan besar mendorong bintang utama memasuki fase kehilangan massa yang sangat ekstrem menjelang kematian.
Kehadiran pasangan bintang pendamping menjadi kunci untuk menjelaskan betapa cepat dan banyaknya massa yang hilang di akhir hidupnya. Tanpa bantuan tarikan dan gangguan gravitasi dari bintang kedua, sulit bagi satu bintang saja untuk membuang materi sebanyak itu dalam waktu sesingkat beberapa tahun.
Selama ini, studi supernova banyak bergantung pada pengamatan cahaya tampak dan inframerah. Dari cahaya ini, astronom dapat mengukur energi ledakan, komposisi unsur berat yang terbentuk, dan bagaimana sisa ledakan berkembang. Namun, cahaya optik hanya menceritakan bagian cerita setelah bintang meledak dan bagaimana serpihannya bercahaya.
Gelombang radio menawarkan sudut pandang berbeda. Sinyal radio berasal dari interaksi antara gelombang kejut supernova dan gas yang telah ada sebelumnya. Artinya, radio memberikan informasi tentang “lingkungan masa lalu” bintang, termasuk kapan dan seberapa banyak materi yang pernah dibuang sebelum ledakan terjadi. Dalam kasus supernova Tipe Ibn ini, radio bertindak seperti cermin yang memantulkan kembali sejarah satu dasawarsa terakhir kehidupan sang bintang raksasa.
Keberhasilan ini membuka cara baru untuk mempelajari kematian bintang masif di alam semesta. Jika sebelumnya astronom belum tahu pasti kapan harus mengarahkan teleskop radio untuk menangkap sinyal dari supernova langka ini, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengamatan harus dilakukan sangat dini setelah ledakan terdeteksi. Sinyal radio dari interaksi awal dengan gas helium di sekitar bintang tampaknya muncul dan berubah dengan cepat, sehingga kesempatan untuk mengamatinya tidak berlangsung lama.
Langkah berikutnya adalah memperluas sampel. Dengan mengamati lebih banyak supernova, terutama yang tergolong langka dan ekstrem seperti Tipe Ibn, astronom berharap dapat mengetahui seberapa umum episode kehilangan massa besar besaran menjelang kematian bintang. Informasi ini akan memperbaiki model evolusi bintang masif, memberi gambaran lebih akurat tentang bagaimana bintang bintang raksasa mengakhiri hidupnya, dan seberapa besar peran sistem bintang ganda dalam proses tersebut.
Bagi kita di Bumi, supernova tampak hanya sebagai titik cahaya yang tiba tiba muncul di langit jauh, lalu perlahan memudar. Namun di balik itu, ada drama panjang yang berlangsung bertahun tahun sebelumnya, saat bintang raksasa mengupas lapisan terluarnya, berinteraksi dengan pasangannya, lalu akhirnya runtuh dan meledak. Dengan telinga baru berupa teleskop radio, para astronom kini mulai bisa mendengar “bisikan terakhir” bintang bintang ini sebelum mereka lenyap selamanya.


