Data sinar-X satelit XRISM mengungkap gas panas yang bergolak hebat di sekitar dua lubang hitam supermasif di gugus galaksi Virgo dan Perseus. Petunjuk penting bagaimana lubang hitam raksasa mengatur pembentukan bintang di sekelilingnya.

Lubang hitam supermasif selama ini sering digambarkan sebagai monster diam di pusat galaksi, padahal kenyataannya jauh lebih riuh. Gambaran kita tentang objek misterius ini baru saja berubah drastis berkat data terbaru dari satelit XRISM. Para ilmuwan dari University of Chicago menemukan bahwa lubang hitam raksasa ini tidak sekadar diam melahap materi, melainkan menjadi pusat dari sebuah badai kosmik yang luar biasa aktif. Ibarat duduk di dalam “mata badai”, lubang hitam ini mengaduk gas panas di sekitarnya dengan energi kinetik yang sangat masif, menciptakan riak turbulensi yang menjalar hingga ratusan ribu tahun cahaya jauhnya.
Keberhasilan ini dicapai berkat kemampuan unik satelit XRISM (X-ray Imaging and Spectroscopy Mission) yang diluncurkan oleh JAXA bersama NASA dan ESA. Selama ini, para astronom hanya bisa melihat “foto statis” dari gas panas tersebut, namun XRISM memungkinkan mereka untuk membaca “sidik jari atom” dari elemen-elemen di dalam gas. Dengan teknologi spektroskopi resolusi tinggi, para peneliti kini bisa mengukur kecepatan gerak gas tersebut secara presisi. Hal ini memberikan dimensi baru dalam memahami bagaimana energi dari lubang hitam “disuntikkan” ke lingkungan galaksi, mengubah pandangan kita dari sekadar melihat gambar badai menjadi mampu mengukur kecepatan angin siklonnya secara langsung.
Fenomena ini teramati dengan sangat jelas pada Gugus Virgo dan Gugus Perseus, dua lingkungan paling ekstrem di alam semesta. Di sana, lubang hitam seperti M87* memicu turbulensi yang kecepatannya melebihi peristiwa tabrakan antar-galaksi. Gerakan gas yang sangat cepat ini ternyata memiliki peran krusial sebagai “rem” bagi galaksi. Energi dari turbulensi tersebut berubah menjadi panas yang mencegah gas mendingin. Padahal, gas harus mendingin agar bisa menggumpal dan melahirkan bintang baru. Inilah jawaban atas misteri mengapa pusat galaksi raksasa seringkali tampak “mandul” dan kekurangan bintang muda; sang lubang hitam di pusatnya terus-menerus memanaskan “pembibitan” bintang agar tidak pernah bisa tumbuh.
Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam memahami evolusi kosmos. Hubungan timbal balik antara lubang hitam dan galaksi induknya ternyata jauh lebih dinamis dan saling bergantung daripada yang kita bayangkan. Dengan sampel data yang terus bertambah dari XRISM, kita kini berada di ambang pintu untuk memecahkan teka-teki kuno tentang bagaimana energi di alam semesta bersirkulasi dan bagaimana lubang hitam, meski tampak destruktif, sebenarnya adalah arsitek utama yang mengatur keseimbangan di ruang hampa.


