Lubang Hitam Yang Memuntahkan Energi Triliunan Kali Death Star

Selama empat tahun terakhir, lubang hitam supermasif AT2018hyz terus menyemburkan jet radio yang kian menguat, dengan energi triliunan kali Death Star.

Ilustrasi lubang hitam sedang mengoyak bintang. Kredit: ESY, Science Communication Lab

Sebuah lubang hitam supermasif di galaksi jauh ternyata belum “selesai makan”, meski sudah empat tahun berlalu sejak ia mencabik-cabik sebuah bintang malang. Peristiwa yang dikenal sebagai tidal disruption event ini terjadi ketika bintang lewat terlalu dekat, lalu diremukkan gaya gravitasi ekstrem hingga memanjang seperti mi, proses yang dijuluki spaghettification. Biasanya, kilatan energi terjadi segera setelah bintang hancur. Namun pada objek yang diberi nama resmi AT2018hyz ini, ledakan radio justru datang terlambat beberapa tahun kemudian dan terus meningkat, sesuatu yang hampir tidak pernah terlihat sebelumnya.

Tim yang dipimpin astrofisikawan dari University of Oregon memantau AT2018hyz dengan jaringan teleskop radio sangat peka di New Mexico dan Afrika Selatan. Mereka menemukan bahwa jet yang menyembur dari sekitar lubang hitam kini sudah 50 kali lebih terang dibanding saat pertama terdeteksi pada 2019, dan diperkirakan terus naik secara eksponensial hingga mencapai puncak sekitar tahun 2027. Perhitungan energi menunjukkan, aliran radiasi dari jet ini sekelas dengan peristiwa kosmik paling dahsyat seperti ledakan sinar gamma, dan berpotensi menjadi salah satu kejadian tunggal paling energik yang pernah tercatat di alam semesta. Jika dibandingkan dengan fiksi ilmiah, energinya diperkirakan setidaknya satu triliun kali, bahkan mungkin seratus triliun kali lebih besar dari senjata super Death Star dalam jagat Star Wars.

Analisis tim juga mengindikasikan bahwa energi bintang yang hancur terfokus dalam satu jet sempit yang menembak ke satu arah. Hal ini bisa menjelaskan mengapa pancaran radio tidak langsung terlihat, karena pada awalnya arah jet belum mengarah ke Bumi. Baru ketika geometri dan kejernihan lingkungan di sekitar lubang hitam berubah, semburannya mulai tertangkap instrumen radio. Fenomena unik ini mendorong astronom untuk kembali memeriksa kejadian serupa di arsip pengamatan, karena bisa jadi ada lebih banyak lubang hitam yang diam diam menyimpan “ledakan susulan” bertahun-tahun setelah bintang yang mereka telan menghilang dari pandangan.

Tinggalkan Balasan