Para astronom mengamati korona Matahari saat gerhana total, menemukan struktur turbulen yang membentuk angin Matahari dan memengaruhi cuaca antariksa dan teknologi di Bumi.

Selama beberapa menit langka saat gerhana Matahari total, ketika piringan Matahari tertutup Bulan, langit menjadi laboratorium alam bagi para astronom. Di momen inilah mahkota Matahari yang biasanya tertelan silau cahaya muncul jelas, tampak sebagai selubung halus yang memancar di sekeliling Matahari. Dari rangkaian gerhana selama hampir 12 tahun, tim peneliti yang dipimpin Shadia Habbal dari University of Hawaiʻi berhasil menangkap detail mahkota dengan resolusi tinggi dan menemukan sesuatu yang selama ini hanya diduga: struktur turbulen yang nyata di lapisan luar atmosfer Matahari.
Dalam citra-citra ini, mahkota Matahari tidak lagi terlihat sebagai kabut tenang, melainkan penuh pola berpilin dan bergelombang. Ada cincin-cincin mirip “gelang asap” dan aliran yang menggulung seperti ombak di awan Bumi. Saat tim membandingkan data dari berbagai gerhana yang terjadi di fase berbeda siklus aktivitas Matahari, pola ini berulang. Jejak turbulensi dapat ditelusuri kembali ke daerah prominensa, lengkungan plasma besar yang menjulang dari permukaan Matahari. Prominensa jauh lebih dingin dan rapat dibanding plasma sekitar yang bersuhu jutaan derajat. Kontras tajam inilah yang menciptakan batas tidak stabil, memicu gerak turbulen di pertemuan kedua wilayah.
Yang lebih menarik, pola turbulen ini tidak berhenti di dekat Matahari. Dengan memadukan pengamatan gerhana dari Bumi dan citra wahana antariksa, tim dapat mengikuti bagaimana struktur turbulen ini “terbawa” keluar bersama angin Matahari, tetap bertahan hingga jarak yang sangat jauh dari Matahari. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa turbulensi di mahkota berperan penting dalam memanaskan plasma dan mempercepat angin Matahari yang terus-menerus menyapu Tata Surya. Bagi Bumi, pemahaman baru ini bukan sekadar rasa ingin tahu. Cara energi ditransfer dari Matahari ke ruang antariksa menentukan seberapa kuat badai matahari dapat mengganggu satelit, navigasi, komunikasi, hingga jaringan listrik. Dengan mengetahui dari mana turbulensi berasal dan bagaimana evolusinya, ilmuwan selangkah lebih dekat untuk memprediksi cuaca antariksa yang dampaknya bisa kita rasakan di rumah.


