Studi dari Universitas Oxford menemukan kelas planet baru: Superbumi berkepadatan rendah yang menyimpan belerang dalam “laut magma” permanen.

Selama beberapa tahun terakhir, astronom makin sering menemukan planet berukuran kecil-menengah, lebih besar dari Bumi tetapi lebih kecil dari Neptunus, yang tidak punya padanan langsung di Tata Surya. Untuk menertibkan keragaman ini, planet kecil biasanya “dipaksa” masuk ke dua kategori populer: katai-gas (planet berbatu dengan selimut hidrogen/helium) atau dunia kaya air (penuh lautan dan es).
Namun L 98-59 d, planet yang mengitari bintang katai-merah L 98-59 sekitar 35 tahun cahaya dari Bumi, tampaknya menolak dua kotak itu. Ukurannya sekitar 1,6 kali Bumi, tetapi kepadatannya luar biasa rendah untuk ukuran “superbumi”, indikasi kuat bahwa planet ini membawa banyak material volatil pembentuk atmosfer. Pengamatan transit dari JWST dan teleskop lain mengarah pada atmosfer yang mengandung gas-gas belerang, termasuk hidrogen sulfida (H₂S) dan sulfur dioksida (SO₂).
Laut magma permanen
Kunci temuan ini bukan sekadar “bau belerang” di atmosfer, melainkan apa yang diduga terjadi jauh di bawahnya. Tim yang dipimpin Oxford menyimpulkan bahwa mantel L 98-59 d kemungkinan besar tetap mencair sebagai silikat panas, membentuk samudra magma global yang membentang hingga ribuan kilometer ke dalam. Dalam skenario ini, magma bertindak sebagai gudang raksasa yang dapat melarutkan dan menyimpan belerang dalam jumlah sangat besar selama waktu geologi.
Gudang belerang ini punya konsekuensi besar: ia membantu planet mempertahankan atmosfer tebal kaya hidrogen yang membawa gas-gas belerang. Normalnya, bintang katai-merah dikenal aktif memancarkan radiasi berenergi tinggi yang bisa “mengikis” atmosfer planet kecil. Tetapi di L 98-59 d, pertukaran kimia antara interior cair dan atmosfer selama miliaran tahun diduga terus menambal dan menyeimbangkan kandungan volatil yang hilang.
Cara JWST “mendengar” planet
Yang menarik dari studi ini adalah pendekatannya: bukan sekadar membaca spektrum atmosfer, tetapi mengikat data teleskop dengan model evolusi interior–atmosfer dalam rentang hampir lima miliar tahun. Dalam makalah Nature Astronomy (dipublikasikan 16 Maret 2026), peneliti memodelkan jalur hidup L 98-59 d dari kondisi lahirnya hingga kondisi yang sekarang terlihat, termasuk pendinginan planet, penyusutan radius, erosi atmosfer oleh bintang, dan reaksi kimia yang dipicu sinar ultraviolet.
Model tersebut menjelaskan mengapa SO₂ bisa muncul tinggi di atmosfer: sinar UV dari bintang dapat memicu fotokimia yang “memasak” gas-gas belerang di lapisan atas. Sementara itu, lautan magma di bawahnya bekerja seperti penyangga, menyerap dan melepas volatil secara bertahap, menjaga mesin kimia planet tetap berjalan sangat lama. Dalam skenario yang paling cocok, L 98-59 d kemungkinan lahir dengan persediaan volatil amat besar dan mungkin pernah tampak lebih mirip sub-Neptunus muda, lalu perlahan “mengecil” seiring mendingin dan kehilangan sebagian atmosfer.
Dunia baru dalam peta keragaman planet
Kesimpulan besar studi ini adalah sederhana tetapi mengguncang: kategori planet kecil yang selama ini dipakai bisa terlalu kasar. L 98-59 d dipresentasikan sebagai kandidat pertama dari keluarga planet kaya gas dan kaya belerang yang mampu mempertahankan lautan magma jangka panjang, tipe planet yang tidak punya padanan di Tata Surya.
Planet ini hampir pasti bukan tempat ramah kehidupan, tetapi ia sangat berharga sebagai “buku pelajaran” tentang apa saja yang mungkin terjadi ketika kimia, panas internal, dan radiasi bintang saling tarik-menarik selama miliaran tahun. Yang membuatnya makin relevan: magma ocean sebenarnya adalah fase awal yang umum bagi planet berbatu, termasuk Bumi dan Mars di masa purba. Memahami fisika magma ocean di planet asing membantu memberi konteks baru untuk sejarah awal planet kita sendiri.
Berburu saudara-saudara “planet belerang”
Oxford dan kolaboratornya menempatkan temuan ini sebagai pembuka pintu, bukan penutup kasus. JWST terus mengirim data atmosfer planet kecil, dan misi masa depan seperti Ariel dan PLATO dirancang untuk memperluas sensus atmosfer serta populasi planet di sekitar bintang lain. Jika L 98-59 d memang hanya contoh pertama, maka “planet belerang dengan laut magma” bisa menjadi tipe planet yang lebih umum daripada dugaan awal, hanya saja selama ini belum ada alat dan model yang cukup tajam untuk mengenalinya.


