Astronom berhasil menemukan dua planet muda yang masih berkembang di dalam piringan protoplanet milik WISPIT 2, bintang serupa Matahari berusia sekitar 5 juta tahun.

WISPIT 2 dikelilingi piringan gas-debu yang besar dengan struktur empat cincin konsentris dan beberapa celah (gap) di antaranya. piringan “transisional” ini memiliki rongga di bagian dalam dan menjulur hingga radius ~380 Satuan Astronomi (AU) dari bintang. Munculnya pola cincin dan celah pada cakram protoplanet diduga kuat merupakan tanda adanya planet yang terbentuk di dalamnya: butir-butir debu kecil di cakram lambat laun berkumpul, saling melekat, lalu tumbuh semakin besar di bawah pengaruh gravitasi hingga menjadi embrio planet.
Benar saja, pengamatan teleskop berhasil mengungkap dua “bayi planet” yang menghuni celah-celah piringan WISPIT 2. Planet pertama, WISPIT 2b, ditemukan berada di salah satu celah terbesar pada jarak sekitar 57 AU dari bintang. Planet gas raksasa muda ini memiliki massa ~5 kali Jupiter dan tampak tengah membersihkan orbitnya dari material piringan. Kehadirannya menjelaskan terbentuknya celah besar (~68 AU) pada piringan tersebut. Data juga menunjukkan WISPIT 2b dikelilingi piringan kecil di sekitarnya dan aktif menarik gas hidrogen (H-alpha) dari lingkungan sekitarnya, pertanda planet ini masih bertumbuh menambah massa. Fenomena ini menjadikan WISPIT 2b mirip dengan planet-planet muda di sistem PDS 70 yang sebelumnya diketahui membuka celah dalam piringan induknya – seolah mengulang proses pembentukan Jupiter dan Saturnus pada Tata Surya purba.
Menariknya lagi, di dalam piringan WISPIT 2 para astronom juga melihat titik redup lain yang lebih dekat ke bintang. Objek kandidat ini awalnya sulit dipastikan apakah planet atau hanya gumpalan debu. Kini melalui pengamatan lanjut, tim berhasil mengonfirmasi objek tersebut sebagai planet kedua yang diberi nama WISPIT 2c. Planet WISPIT 2c ini mengorbit di bagian dalam rongga piringan pada jarak sekitar 15 AU dari bintang. Analisis spektrum inframerahnya menunjukkan ciri khas planet muda bermassa besar, dengan estimasi massa sekitar 8–12 kali Jupiter (sekitar dua kali massa WISPIT 2b). Dengan penemuan ini, sistem WISPIT 2 resmi menjadi analogi baru bagi sistem PDS 70 – menawarkan “laboratorium” kedua untuk mempelajari terbentuknya sistem multi-planet muda di dalam piringan sejak tahap awal.
Peran teknologi observasi canggih sangat krusial dalam penemuan ini. Teleskop VLT ESO di Chile dengan instrumen SPHERE pertama kali mengambil gambar beresolusi tinggi piringan WISPIT 2 dan mengidentifikasi keberadaan planet WISPIT 2b di celahnya. Keberadaan WISPIT 2c berhasil dipastikan melalui pengamatan interferometri dengan Very Large Telescope Interferometer (VLTI) di Paranal. Berkat instrumen GRAVITY+ generasi terbaru pada VLTI yang dilengkapi sistem optik adaptif ekstrem. Kombinasi pencitraan VLT/SPHERE dan interferometri VLTI/GRAVITY inilah yang akhirnya memberi bukti spektroskopis langsung bahwa titik redup di dekat WISPIT 2 memang planet kedua yang baru lahir.
Penemuan dua protoplanet di WISPIT 2 ini memberikan wawasan berharga tentang proses pembentukan planet raksasa dalam piringan protoplanet. Sistem WISPIT 2, layaknya PDS 70 sebelumnya, menunjukkan secara nyata bagaimana planet muda membuka celah dalam piringan “tempat lahirnya”. Bahkan, struktur piringan WISPIT 2 yang memiliki beberapa cincin dan celah tambahan mengisyaratkan kemungkinan hadirnya planet ketiga yang belum terdeteksi, terutama untuk menjelaskan celah terluar di dekat tepian piringan luar.
Dengan mempelajari sistem ini, ilmuwan bisa membandingkannya dengan model Tata Surya dini. Observasi langsung seperti ini akhirnya membuktikan teori yang selama ini menyatakan bahwa planet-planet muda lahir di dalam piringan dan membentuk pola cincin-celah di sekeliling bintang muda. Setiap “bayi planet” yang berhasil dipotret di piringan bintang lain ibarat jendela waktu yang mengintip kembali ke masa bayi Tata Surya kita sendiri.


