Wajah Saturnus dalam Dua Cahaya Berbeda

Dua teleskop antariksa milik NASA memotret Saturnus dalam cahaya yang berbeda, dan hasil gabungannya membuat atmosfir Saturnus terbaca seperti sistem 3D yang saling terhubung. 

Planet Saturnus yang dipotret teleskop Webb dan Teleskop Hubble dalam dua panjang gelombang berbeda. Kredit: NASA, ESA, CSA, STScI, Amy Simon (NASA-GSFC), Michael Wong (UC Berkeley); Image Processing: Joseph DePasquale (STScI)

Dua kamera & dua “cara melihat” planet gas raksasa

Saturnus sudah lama jadi ikon langit malam, tetapi potret terbarunya terasa seperti dua bab dari buku yang sama dengan bahasa berbeda. Hubble menangkap pantulan cahaya tampak dari pita awan dan kabut, memperlihatkan variasi warna yang lembut dan detail halus di permukaan atas. Webb memotret pada inframerah, sehingga mampu “membaca” awan dan senyawa pada kedalaman berbeda—dari lapisan yang lebih dalam hingga atmosfer atas yang tipis. Ketika dua citra ini dipasangkan, ilmuwan bisa membedah Saturnus per lapisan, ibarat mengupas bawang: melihat bagaimana angin, gelombang, dan kimia berinteraksi sebagai satu sistem tiga dimensi. 

Hubble: catatan tahunan cuaca Saturnus dari program OPAL

Citra Hubble diambil pada 22 Agustus 2024 sebagai bagian dari program pemantauan jangka panjang OPAL yang sudah berjalan lebih dari satu dekade. Program ini membuat arsip tahunan untuk melacak perubahan badai, pola pita, dan pergeseran musim di planet-planet raksasa. Dalam gambar tampak, Saturnus terlihat “lebih familiar”: pita-pita berwarna pucat, cincin terang namun tidak se-“neon” pada inframerah, dan bayangan cincin yang jatuh tipis di atmosfer, petunjuk sudut penyinaran Matahari saat itu. 

Webb: inframerah mengungkap gelombang pita dan sisa badai raksasa

Gambar Webb diambil pada 29 November 2024 menggunakan waktu pengamatan khusus, lalu dirilis bersama citra Hubble pada 25 Maret 2026. Dalam inframerah, cincin Saturnus menyala sangat terang karena tersusun dari es air yang sangat memantulkan cahaya. Atmosfernya memperlihatkan fitur yang lebih “dalam”: sebuah arus jet panjang yang dikenal sebagai ribbon wave berkelok di lintang menengah utara, seolah menandai gelombang atmosfer yang tak mudah dilihat di cahaya tampak. Di dekatnya ada titik kecil, sisa yang masih bertahan dari Great Springtime Storm 2010–2012—serta beberapa badai lain yang tersebar di belahan selatan. 

Kutub kehijauan, heksagon yang memudar, dan musim yang berganti

Ada kejutan lain di Webb: kutub Saturnus tampak abu-hijau pada panjang gelombang sekitar 4,3 mikron. Penjelasan yang mungkin adalah lapisan aerosol di ketinggian yang menyebarkan cahaya secara berbeda, atau aktivitas aurora yang berkaitan dengan medan magnet Saturnus. Di kedua gambar, tepi-tepi pola heksagon di kutub utara juga terlihat samar, pola jet legendaris yang diketahui sejak era Voyager pada 1981,dan ini berharga karena Saturnus sedang bergerak menuju musim dingin kutub utara. Ada perkiraan bahwa ini bisa menjadi salah satu kesempatan resolusi tinggi terakhir untuk “mengintip” heksagon sebelum wilayah kutub utara masuk kegelapan panjang dan baru kembali mudah diamati pada dekade 2040-an. 

Bagi astronom, pasangan Webb dan Hubble sekarang melanjutkan warisan misi Cassini: bukan hanya memotret Saturnus yang indah, tetapi juga merangkai bagaimana cuaca di planet gas raksasa bekerja dari waktu ke waktu, dari lapisan terdalam hingga tepi atmosfernya. 

Tinggalkan Balasan