Di balik puing-puing purba Tata Surya, tersimpan jejak kimia yang bisa menjelaskan asal-usul kehidupan. Inilah yang ditemukan dalam sampel asteroid Bennu.

Penelitian terbaru terhadap sampel asteroid Bennu mengungkapkan bahwa senyawa-senyawa organik kompleks dapat bertahan dalam kondisi yang penuh perubahan, memberi wawasan baru bagi ilmu planet dan astrobiologi.
Asteroid Bennu, objek kecil yang mengorbit dekat Bumi, dikunjungi oleh wahana OSIRIS-REx milik NASA dan berhasil dibawa pulang sebagian materialnya ke Bumi. Kini, sampel tersebut dianalisis oleh tim peneliti dari Stony Brook University dan Lawrence Berkeley National Laboratory menggunakan teknik spektroskopi inframerah dan Raman pada skala nanometer.
Dengan ketelitian hingga 20 nanometer per piksel dan tanpa paparan udara, agar senyawa sensitif tetap utuh—para ilmuwan berhasil mengamati langsung struktur kimia mikroskopis dalam batuan Bennu. Hasilnya mengejutkan: ditemukan wilayah kimia yang sangat berbeda satu sama lain, termasuk zona kaya alifatik, karbonat, dan senyawa nitrogen organik.
Yang menarik, senyawa organik kaya nitrogen itu masih bertahan meskipun permukaan Bennu pernah mengalami perubahan akibat air. Ini menunjukkan bahwa asteroid tersebut menyimpan proses kimia yang jauh lebih rumit daripada dugaan sebelumnya.
Sampel Bennu memiliki keistimewaan tersendiri dibanding meteorit yang jatuh ke Bumi, karena belum terkontaminasi atmosfer. Material ini dianggap masih benar-benar murni sejak zaman awal Tata Surya. Dengan demikian, setiap temuan dari sampel ini menjadi petunjuk autentik tentang kondisi kimia miliaran tahun lalu.
Penelitian ini juga menjawab sebagian pertanyaan besar tentang bagaimana molekul-molekul yang berperan dalam kimia pra-kehidupan bisa bertahan dan mungkin sampai ke Bumi. Asteroid seperti Bennu mungkin pernah menjadi “pengantar” senyawa kehidupan ke planet kita, melalui tumbukan di masa lalu, dan ikut menyusun fondasi kimia yang kelak memicu lahirnya kehidupan.


