Tabrakan Meteor di Bulan

Pada hari Senin, 21 Januari 2019, telah terjadi satu-satunya gerhana bulan total tahun ini. Dan para pengamat berhasil mengabadikan tabrakan meteor di Bulan.

Foto tabrakan meteor di BUlan saat Gerhana Bulan Total 21 Januaro 2019. Dipotret dari Observatorium La Loma, San Vincente Ferrer, Colombia. Fotografer: Jonathan Ospina, Mauricio Gaviria and Sergio López
Foto tabrakan meteor di BUlan saat Gerhana Bulan Total 21 Januaro 2019. Dipotret dari Observatorium La Loma, San Vincente Ferrer, Colombia. Fotografer: Jonathan Ospina, Mauricio Gaviria and Sergio López

Gerhana tersebut dapat dilihat dari seluruh benua Amerika, Afrika bagian utara dan sebagian besar benua Eropa. Diperkirakan, satu dari empat orang yang hidup di planet ini dapat menyaksikan fenomena yang terjadi sekitar hari Minggu tengah malam (untuk benua Amerika) atau Senin dini hari di Eropa dan Afrika.

Namun, gerhana kali ini sangat istimewa dibandingkan dengan gerhana bulan lainnya yang dicatat dan diamati oleh jutaan orang di seluruh dunia. Menjelang mulainya totalitas gerhana (ketika bulan sepenuhnya tertutup oleh bayangan Bumi), para pengamat yang mengikuti fenomena ini dari internet (dewasa ini, peristiwa-peristiwa semacam ini juga disiarkan secara online) atau mengamati langsung dengan peralatan mereka mengumumkan di forum-forum online bahwa mereka melihat adanya letupan cahaya singkat di salah satu tepian piringan Bulan.

Kabar tersebut langsung membuat para astronom profesional yang memburu peristiwa-peristiwa di Bulan semacam ini bertindak. Salah satunya adalah José Madiedo dari University of Huelva di Spanyol, yang bertanggung jawab atas Moon Impact Detection and Analysis System (MIDAS/Sistem Deteksi dan Analisa Tabrakan di Bulan). Tak lama setelah pengumuman di jejaring sosial, Profesor Modiedo memeriksa data dari MIDAS dan membenarkan apa yang dirumorkan di internet: ada sesuatu yang menabrak permukaan Bulan ketika jutaan orang mengamati gerhana malam itu.

Sebagaimana yang terjadi di banyak tempat di benua Amerika dan Eropa, para penggiat di Kolombia dan Republik Dominika juga merekam kejadian tersebut, baik dalam bentuk video maupun foto, pada awal terjadinya gerhana.

Di San Vicente Ferrer (wilayah Antioquia, Kolombia) tim yang dipimpin oleh Mauricio Gaviria (direktur Obsrvatorium LaLoma, yang dilengkapi dengan teleskop terbesar di Kolombia, dengan diameter cermin utama sebesar 63,5 cm) dan Jonathan Ospina (ahli astrofotografi dan peralatan astronomi di kota Medellin), telah mendeteksi terjadinya tabrakan di Bulan, tanpa mengetahuinya pada saat kejadian.

Sementara itu, di Santo Domingo, Republik Dominika, Fritz Pichardo, astrofotografer yang cukup dikenal dan anggota Dominican Astronomical Society (Astrodom/Perkumpulan Astronomi Dominika),berhasil mengambil gambar peristiwa tersebut dari observatorium pribadi di rumahnya dengan menggunakan berbagai teleskop yang dimilikinya. Tanpa disadarinya, ia telah merekam tabrakan tersebut setidaknya dalam satu dari sekian banyak foto yang diambilnya.

Para astronom dari University of Antioquia yang dipimpin oleh Professor Jorge I. Zuluaga langsung tertarik pada pengumuman terjadinya tabrakan bulan yang terekam oleh para penggiat di Republik Dominika dan Kolombia. Profesor Jorge Zuluga adalah co-founder dari program sarjana Astronomi di Universitas tersebut, dan yang pada 2013 menganalisa gambar-gambar tabrakan pada atmosfer Bumi yang diambil oleh kamera pengawas/survailen di Rusia.

Dalam waktu kurang dari sehari, mereka membentuk tim yang terdiri dari para profesional dan amatir dari kedua negara, dengan tujuan utama melakukan analisa saintifik pertama dari peristiwa tersebut.

Analisis Tabrakan

Pada tanggal 28 Januari 2019, hanya satu minggu setelah terjadinya tabrakan, hasil analisa mereka dipublikasikan di adXiv (sebuah database yang berisi manuskrip saintifik yang sedang dipersiapkan atau sudah dipublikasikan). Karya mereka juga telah dikirimkan untuk dipublikasikan di jurnal dengan penilaian sejawat.

Tabrakan tersebut tentu saja menarik dari sisi keilmuan. Meskipun Bulan mengalami tabrakan semacam ini terus-menerus (diperkirakan setiap satu jam permukaan bulan ditabrak oleh batuan kecil dari ruang angkasa), fakta bahwa tabrakan tersebut terjadi ketika sedang terjadi peristiwa lain yang diamati jutaan orang telah memberikan kesempatan yang unik bagi para ilmuwan untuk mempelajarinya dengan lebih detail.

Profesor Pablo Cuartas, co-founder program sarjana Astronomi di Universitas Antioquia yang juga salah satu penulis karya tersebut, menyebutkan bahwa peristiwa semacam ini belum terjadi sejak abad ke-12 ketika sekelompok biarawan Inggris mengamati bersama apa yang mereka gambarkan sebagai api, letupan panas dan serpihan bunga api. Meskipun tabrakan kali ini tidak memiliki energi seperti tabrakan di abad pertengahan tersebut, hal itu cukup untuk membuat para astronom dan penggiat di seluruh dunia bersemangat.

Hasil analisa dari gambar-gambar (yang juga meliputi video yang diambil oleh observatorium bergerak dari website ternama timeanddate.com, yang dalam kesempatan ini berada di kota Ouarzazate, Moroko) berhasil mengungkap petunjuk awal tentang asal dan karakteristik dari obyek yang menabrak Bulan.

Menurut para astronom dari Kolombia dan Dominika, berkas cahaya yang diamati di Bulan dihasilkan ketika meteoroid (nama teknis dari batuan tersebut) seukuran bola kecil (10-27 cm) dan dengan massa sekitar 7 hingga 30 kg menabrak permukaan Bulan dengan kecepatan sekitar 47.000 km/jam. Tabrakan tersebut memicu terbentuknya awan material yang terang dan panas yang menyebar dengan cepat dan menghilang dalam waktu kurang dari sepertiga detik. Apabila perkiraan ini benar, maka di lokasi tabrakan di permukaan bulan akan terbentuk kawah dengan diameter lebih dari 5 meter. Di masa depan, kawah ini dapat diamati oleh misi-misi antariksa yang direncanakan ke Bulan.

Kolaborasi Astronom Amatir & Profesional

Karls Peña, anggota Komunitas Astronomi Dominika dan penulis bersama dari karya tersebut, menegaskan  bahwa “jejaring sosial dan kemudahan akses teknologi telah membuat umat manusia lebih dekat kepada sains (terutama bagi non-ahli)”. Ia juga menambahkan bahwa upaya-upaya semacam ini, di mana para profesional dan amatir dari berbagai tempat bekerja sama demi kemajuan pengetahuan umat manusia, merupakan cara yang sangat efektif untuk membangkitkan minat penelitian saintifik di kalangan generasi muda. Berbicara mengenai perkembangan astronomi di negaranya, Peña mengatakan bahwa pekerjaannya menawarkan kesempatan unik bagi Republik Dominika, yang memiliki komunitas astronomi yang hidup dan aktif, untuk ikut berkontribusi bagi perkembangan dunia astronomi.

Salah satu elemen pembeda dari karya ini adalah penggunaan teknik terbaru untuk mempelajari asal usul benda penabrak di tata surya. Metode ini dikembangkan oleh Profesor Zuluaga and Mario Sucerquia, yang saat itu adalah mahasiswa doktoralnya. Teknik tersebut dikenal dengan nama “pelacakan sinar gravitasi”, yang terinspirasi dari  metode yang digunakan untuk membuat gambar yang fotorealistis dalam film animasi. Dengan teknik ini, kita mampu menghitung peluang datangnya batuan dari arah tertentu di ruang angkasa dan dengan kecepatan tertentu. Dengan cara inilah mereka mengestimasi kecepatan batuan tersebut menabrak Bulan (yang normalnya diasumsi sebagai rata-rata dari semua batuan yang menabrak Bumi dan satelit kita).

Sebagai hasil tambahan, tim Dominika dan Kolombia memperkirakan bahwa batu penabrak memiliki orbit dalam terhadap Bumi (seperti kelompok asteroid yang dikenal dengan nama Aten) dan akan melaju menuju Bulan dari arah rasi Skorpio atau dari satu titik di rasi Pahat (Caelum-red). Sayangnya, pembuktian hasil ini tidaklah memungkinkan (dikarenakan ukurannya yang kecil dan tidak ada data atau catatan tentang batuan tersebut ketika ia mendekati Bulan). Meskipun demikian, peluang untuk mempelajari banyak detail dari fenomena ini menunjukkan kemampuan teknik pelacakan sinar yang dikembangkan oleh para peneliti di Universitas Antioquia.

Dalam minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang diharapkan tim-tim para profesional lainnya dari seluruh dunia, termasuk tim Madiedo yang bertanggung jawab atas sistem MIDAS, akan memublikasikan hasil mereka sendiri dan akan mengkonfirmasi atau memodifikasi perkiraan dari para astronom Kolombia dan Dominika.

Profesor Cuartas mengatakan, di Universitas Antioquia mereka telah mempromosikan sains yang dibuat bersama dengan dan oleh publik, dan termasuk kasus kali ini. Ia juga menambahkan bahwa mereka juga bekerja sama dengan para penggiat untuk menyebarkan berita luar biasa tentang tabrakan terbaru di Bulan ini.

Sergio López, seorang insinyur Kolombia dengan Sertifikat Astronomi dan penulis bersama dari studi ini menyebutkan bahwa kegiatan saintifik seperti ini memiliki nilai yang sangat berharga dalam mengajarkan kepada generasi ilmuwan baru dan juga mengirimkan pesan kepada khalayak umum bahwa tidak menjadi seorang peneliti profesional bukan merupakan halangan untuk memberikan kontribusi kecil pada usaha bersama manusia yang kita sebut sains.

Sumber: Astronomia, Universidad de Antioquia

Ni Nyoman Ayu Cinde Dhitasari

Ditulis oleh Ni Nyoman Ayu Cinde Dhitasari

Berlatar belakang pendidikan Teknik Lingkungan dan musik (piano), Dhita telah jatuh cinta pada dunia Astronomi sejak kecil, terutama Astronomi Budaya. Astronomi telah menjadi hobby utamanya hingga saat ini. Dhita adalah seorang guru piano dan pianis di Denver, Amerika Serikat, dan sempat aktif sebagai tenaga sukarela di Denver Museum of Nature and Science (DMNS), bagian Space Odyssey.

Tinggalkan Balasan