Batuan Tertua Bumi Ditemukan di Bulan

Para ilmuwan menemukan apa yang mungkin merupakan batuan tertua dari Bumi dalam contoh batuan Bulan yang dibawa oleh astronot wahana Apollo 14.

Pecahan batuan. Kredit: USRA
Pecahan batuan. Kredit: USRA

Hasil penelitian mengenai batuan yang diduga berasal dari Bumi pada masa Hadean ini telah diterbitkan pada hari ini (24/1/2019) dalam jurnal Earth and Planetary Science Letters.

Sekelompok ilmuwan internasional yang berasosiasi dengan Center for Lunar Science and Exploration (CLSE/Pusat Keilmuan dan Eksplorasi Bulan), yang merupakan bagian dari Solar System Exploration Research Virtual Institute (SSERVIInstitut Virtual Penelitian Eksplorasi Tata Surya) milik NASA, menemukan bukti bahwa batuan tersebut terlontar dari Bumi akibat tabrakan komet atau asteroid besar. Tabrakan tersebut melemparkan material melewati atmosfer primitif Bumi ke ruang angkasa, yang kemudian menabrak permukaan Bulan (yang ketika itu posisinya tiga kali lebih dekat ke Bumi daripada sekarang) sekitar 4 milyar tahun yang lalu. Batuan tersebut akhirnya bercampur dengan material Bulan menjadi satu sampel.

Tim tersebut mengembangkan teknik untuk menentukan lokasi kepingan batu dari Bumi di dalam regolit (contoh batuan) dari Bulan. Hal ini membuat Peneliti Utama CLSE Dr. David A. Kring, ilmuwan Universities Space Research Association (USRA/Asosiasi Penelitian Antariksa Universitas) pada Lunar and Planetary Institute (LPI/Institut Bulan dan Keplanetan), menantang mereka untuk menemukan lokasi kepingan Bumi di permukaan Bulan.

Dipimpin oleh Ilmuwan Peneliti Jeremy Bellucci dan Profesor Alexander Nemchin, anggota tim yang bekerja di Swedish Museum of Natural History (Museum Sejarah Alam Swedia) and Curtin University di Australia menjawab tantangan tersebut. Penelitian mereka menghasilkan 2 gram kepingan batuan yang tersusun dari kwarsa, feldspar dan zirkon. Mineral-mineral tersebut  sangat mudah ditemukan di Bumi, tapi sangat tidak biasa di Bulan. Analisis kimia menunjukkan bahwa kepingan batuan tersebut terkristalisasi dalam sistem teroksidasi seperti di Bumi, pada suhu Bumi, dan bukannya pada kondisi pereduksi dan suhu yang tinggi, yang merupakan karakteristik kondisi di Bulan.

Menurut Dr. Kring, penemuan yang sangat luar biasa ini membantu memberikan gambaran tentang Bumi muda dan berbagai benturan dan tabrakan yang memodifikasi planet ini pada awal munculnya kehidupan.

Peluang bahwa sampel ini bukan berasal dari Bumi, namun terkristalisasi pada permukaan Bulan, tetap ada. Namun, hal itu akan memerlukan kondisi-kondisi yang belum pernah ditemukan buktinya pada contoh-contoh dari Bulan lainnya. Sampel batuan tersebut harus terbentuk jauh di dalam lapisan mantel Bulan, di mana batuan dengan komposisi yang berbeda memang sudah diperkirakan. Dengan demikian, interpretasi yang paling sederhana adalah bahwa sampel batuan tersebut berasal dari Bumi.

Analisa oleh tim peneliti menghasilkan detail tambahan mengenai sejarah sampel tersebut. Batuan itu terkristalisasi pada kedalaman sekitar 20 kilometer di bawah permukaan Bumi,   sekitar 4,0 hingga 4,1 milyar tahun yang lalu. Satu atau lebih peristiwa tabrakan besar menggalinya dan meluncurkannya ke ruang angkasa, di sekitar Bulan.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tabrakan asteroid di masa itu menghasilkan kawah berdiameter ribuan kilometer di permukaan Bumi; cukup besar untuk membawa material dari kedalaman tersebut ke permukaan. Setelah sampel tersebut mencapai permukaan Bulan, berbagai peristiwa tabrakan lain juga mempengaruhinya. Salah satu dari peristiwa tersebut, yang terjadi sekitar 3,9 miliar tahun yang lalu, melelehkan sebagian sampel dan menguburnya di bawah permukaan. Dengan demikian, sampel ini adalah relik dari masa-masa tabrakan dan benturan yang membentuk Tata Surya pada satu milyar tahun pertamanya.

çSetelah periode tersebut, Bulan dipengaruhi oleh peristiwa tabrakan yang lebih kecil dan lebih jarang. Peristiwa tabrakan terakhir yang mempengaruhi sampel ini terjadi sekitar 26 juta tahun yang lalu, ketika sebuah asteroid menabrak Bulan, membentuk Kawah Cone, kawah kecil berdiameter 340 meter. Peristiwa ini telah menggali sampel tersebut kembali ke permukaan Bulan, di mana para astronot mengambilnya hampir tepat 48 tahun yang lalu (31 January – 6 Februari 1971).

Kring menduga, kesimpulan bahwa kepingan batuan tersebut berasal dari Bumi akan menjadi kontroversi. Meskipun Bumi di masa Hadean adalah sumber yang masuk akal bagi sampel tersebut, namun statusnya sebagai temuan yang pertama dapat menjadi tantangan tersendiri bagi komunitas geologi untuk menerimanya. Ia menyebutkan bahwa sampel-sampel dari Bumi Hadean tentunya banyak tersebar di permukaan Bulan; ada peluang sampel-sampel lain akan ditemukan dengan studi lebih lanjut.

Sumber: USRA

Ni Nyoman Ayu Cinde Dhitasari

Ditulis oleh Ni Nyoman Ayu Cinde Dhitasari

Berlatar belakang pendidikan Teknik Lingkungan dan musik (piano), Dhita telah jatuh cinta pada dunia Astronomi sejak kecil, terutama Astronomi Budaya. Astronomi telah menjadi hobby utamanya hingga saat ini. Dhita adalah seorang guru piano dan pianis di Denver, Amerika Serikat, dan sempat aktif sebagai tenaga sukarela di Denver Museum of Nature and Science (DMNS), bagian Space Odyssey.

Tinggalkan Balasan