Peta 3D Alam Semesta Yang Memuat Jutaan Galaksi

Proyek DESI memetakan puluhan juta galaksi dalam 3D, mengungkap pola kosmik yang ditopang materi gelap dan memberi petunjuk tentang misteri energi gelap.

Jejak bintang yang menyatu tampak melengkung di atas Teleskop Mayall di Arizona, yang menjadi rumah bagi Dark Energy Spectroscopic Instrument. Kreit: Luke Tyas/Berkeley Lab dan KPNO/NOIRLab/NSF/AURA

Alam semesta ternyata tidak tersusun secara acak. Di balik hamparan galaksi yang tampak tersebar, ada pola raksasa yang membentuk struktur kosmik. Kini, pola itu mulai terlihat lebih jelas berkat peta tiga dimensi terbesar yang pernah dibuat manusia.

Melalui proyek Dark Energy Spectroscopic Instrument, para astronom berhasil memetakan lebih dari 46 juta galaksi dan quasar, serta 19 juta bintang. Peta ini tidak hanya menunjukkan posisi objek-objek tersebut di langit, tetapi juga jaraknya dari Bumi, sehingga membentuk gambaran tiga dimensi tentang struktur alam semesta.

Dengan pendekatan ini, para ilmuwan dapat melihat bagaimana galaksi sebenarnya “menempel” pada jaringan besar yang dibentuk oleh materi gelap. Materi gelap ini tidak memancarkan cahaya, tetapi gravitasinya menjadi kerangka tempat galaksi-galaksi berkumpul dan membentuk pola seperti jaring kosmik.

Di sisi lain, ada kekuatan misterius lain yang bekerja: energi gelap. Jika materi gelap berperan menyatukan, energi gelap justru mendorong galaksi menjauh satu sama lain, mempercepat ekspansi alam semesta. Hingga kini, para ilmuwan baru memahami efeknya, tetapi belum mengetahui apa sebenarnya energi gelap itu.

Pemetaan ini dilakukan menggunakan teleskop di Kitt Peak, Arizona, yang bekerja setiap hari untuk mengumpulkan data dalam jumlah besar. Dengan data tersebut, astronom dapat melacak bagaimana pola distribusi galaksi berkembang dari waktu ke waktu, memberikan gambaran tentang evolusi alam semesta sejak miliaran tahun lalu.

Hasilnya menunjukkan bahwa struktur kosmik memiliki pola yang konsisten sepanjang sejarah alam semesta. Dengan menempatkan galaksi dalam ruang tiga dimensi, pola ini menjadi terlihat seperti lukisan raksasa yang perlahan mengungkap bagaimana alam semesta tumbuh dan berubah.

Proyek DESI sendiri melibatkan ratusan ilmuwan dari berbagai institusi di dunia dan dirancang untuk menjadi salah satu survei kosmologi paling ambisius. Data yang dihasilkan tidak hanya membantu memetakan alam semesta, tetapi juga menjadi kunci untuk memahami dua komponen terbesarnya, materi gelap dan energi gelap, yang hingga kini masih menjadi misteri terbesar dalam fisika modern.

Dengan setiap titik galaksi yang ditambahkan ke peta, para astronom semakin dekat untuk memahami bagaimana alam semesta tersusun, berkembang, dan ke mana arahnya di masa depan.

Tinggalkan Balasan